Image by TechSpot

Intel vs. AMD – Di tahun 2019 ini, persaingan antara Intel dan AMD semakin seru saja, bahkan menjadi yang paling seru dalam satu dekade terakhir.

Dalam proses merakit sebuah PC impian, salah satu hal yang menjadi pertimbangan serta perdebatan utama adalah pemilihan prosesor, yakni Intel atau AMD? Seperti halnya Apple vs. Microsoft, Android vs. IOS, atau Fortnite vs. PUBG, yang mana tidak akan selesai dibahas semalaman meskipun sudah habis kopi satu teko. Yah, setiap kerajaan punya rakyatnya masing-masing yang kadang dibutakan oleh kesilauan mahkota rajanya. Apakah mereka (fans) salah? Tentu saja tidak, karena dalam hal ini tidak ada yang salah atau benar, semua kembali ke preferensi masing-masing.

Lantas, jika tidak ada yang salah atau benar, apa pertimbangannya? Faktor apa yang menentukan seseorang harus memilih Intel atau AMD sebagai otak dari komputernya? Sebuah pertanyaan yang sederhana, tapi susah untuk dijawab. Atau bisa dibilang, jawabannya akan memakan waktu yang cukup lama. Buat kamu yang ingin mencari jawaban sesungguhnya dari pertanyaan ini, baik yang sudah punya pengetahuan mendalam ataupun yang belum sama sekali, tidak ada salahnya ikut bergabung dalam diskusi ini. Yah, setidaknya bisalah untuk seru-seruan. Atau, bisa juga sebagai medan perang untuk membela kerajaan masing-masing. ✌

Sebagai batasan dari diksusi ini, biar enak, mari kita batasi pembahasan untuk kategori consumer atau gamer, Intel dengan seri Core dan AMD dengan seri Ryzen. Tapi sebelum itu, tidak ada salahnya menyiapkan secangkir kopi hangat ditemani camilan agar lebih khusyuk dalam menyimak. Happy reading!

Perbandingan Harga

Image by Bill Roberson/Digital Trends

Sudah semestinya, masalah harga bisa dikatakan menjadi pertimbangan utama dalam perang ini. Nah, jika kamu anak seorang raja, bisa skip bagian ini sih.

Merakit, upgrade, atau membeli paket PC yang sudah jadi, tidak akan jauh-jauh dari masalah harga. Secara garis besar, pasukan AMD memiliki harga yang lebih murah jika dibandingkan dengan Intel. Bisa dibilang, untuk harga yang sama, pasukan-pasukan dari kerajaan AMD memiliki daya serang yang lebih tinggi. Yah, tapi mereka juga butuh makan yang lebih banyak (red: daya listrik). Trend ini bahkan sudah dimulai sejak jaman keluarga Phenom dan Intel Core 2 duo (tahun 2008-an), atau bahkan mungkin sebelum Negara Api menyerang (Negara Api menyerang pada tahun 2005).

Sebelum diluncurkannya keluarga Ryzen dari AMD, seolah-olah pemenang dari persaingan ini sudah jelas, yakni Intel, tanpa perlawanan berarti dari AMD. Pada awal tahun 2017 saja, menurut Passmark, dari sekian data benchmark yang masuk ke Passmark, Intel memiliki porsi sebanyak 79.3% sementara AMD hanya 20.7% (via techradar). Akan tetapi, secara tiba-tiba, di balik keheningan dan miskinnya AMD akan inovasi selama bertahun-tahun, keluarlah AMD Ryzen 7 1800X pada tahun 2017 sebagai barisan teratas dari prosesor kelas consumer AMD. Seolah menjadi senjata pamungkas, lini AMD Ryzen ini berhasil menjadi titik balik keterpurukan AMD selama ini. Sampai saat artikel ini dibuat, penjualan prosesor AMD sudah mulai menyamai Intel untuk kelas consumer-nya per Juli 2018 (by reddit). Sebuah pencapaian yang luar biasa dari AMD.

5 CPU Gaming Terbaik 2018 dengan Harga di Bawah 7 Juta

Setelah setahun berlalu, posisi teratas AMD untuk kelas consumer kini ditempat oleh Ryzen 7 2700X yang memiliki 8 core dan 16 thread dengan harga di kisaran Rp. 5 jutaan (Ryzen 7 2800X masih belum diluncurkan pada saat artikel ini dibuat). Sementara itu, barisan tertinggi Intel untuk kelas consumer sendiri masih tetap bertahan di 6 core dan 12 thread dengan Intel Core i7 8086K di harga Rp. 7 jutaan (by Tokopedia). Untuk kelas bawah, AMD sendiri memiliki Ryzen 3 2200g (4 core 4 thread) di kisaran harga Rp. 1,6 jutaan dan Intel dengan Core i3 8100 (4 core 4 thread, akhirnya naik kelas juga) di kisaran harga Rp 2,1 jutaan. Persaingan ketat juga terjadi di kelas menengah, yakni antara Ryzen 5 dan Intel Core i5 yang harganya saling pepet satu sama lain di rentang Rp 2,5-3,5 jutaan dengan harga prosesor AMD lebih murah tentunya (selisih sekitar Rp. 500-600 ribuan).

Sebagai tambahan, perlu digaris bawahi bahwa Intel sendiri cenderung melakukan pergantian socket pada seri motherboard tiap 2 tahun sekali, sementara AMD cenderung memertahankan socket yang sama untuk selang waktu yang lebih lama. Sejak Intel Core generasi pertama dirilis, Intel sudah mengganti jenis socketnya sampai 4 kali untuk keluarga yang sama (Intel Core), yakni dimulai dari LGA1156, LGA1155, LGA1150, LGA1151, dan yang terakhir FCLGA1151. Ini membuat proses upgrade CPU menjadi suatu keengganan karena untuk menikmati CPU terbaru pengguna diharuskan upgrade motherboard juga yang notabene tidak bisa dianggap murah. Sampai saat ini, kami sendiri tidak tahu pasti kenapa Intel tidak berusaha menggunakan socket tipe lama untuk prosesor generasi terbarunya, atau kenapa mereka tidak membuat desain socketnya bertahan lebih lama (minimal 5 tahun) seperti LGA 775 yang bisa bertahan lebih dari 5 tahun.

Persaingan di Segmen Laptop

Image by TechRadar

Sayangnya, AMD baru bisa menyusul Intel pada lini desktop. Fakta yang sangat berbeda terjadi pada lini laptop di mana untuk setiap laptop yang beredar di pasaran hampir bisa dipastikan ditenagai oleh prosesor dari Intel. Hanya segelintir produsen yang menggunakan AMD untuk laptopnya, itupun hanya terjadi di seri bawah (harga di bawah Rp. 5 jutaan). Kemungkinan, ini terjadi karena AMD selama ini hanya fokus pada prosesor desktop yang notabene terlalu memakan banyak daya jika akan diimplementasikan di laptop. Untuk laptop sendiri, AMD hanya fokus pada prosesor yang terintegrasi dengan GPU (biasa disebut APU) yang memiliki konsumsi daya yang rendah, sekitar 15 watt. APU tersebut selama ini hanya diperuntukkan untuk laptop low-power, yakni penggunaan ringan dengan daya tahan baterai yang tinggi. Di sisi lain, untuk lini laptop, Intel selalu mengedepankan prosesornya serta mengesampingkan urusan grafis. Alhasil, prosesor Intel untuk laptop dan perangkat mobile lainnya saat ini memiliki kemampuan komputasi yang hampir setara dengan desktop akan tetapi mengonsumsi daya yang jauh lebih rendah. Meskipun AMD sudah mengeluarkan prosesor Ryzen untuk laptop dengan konsumsi daya yang rendah, kemampuan komputasinya masih kalah jika dibandingkan Intel. Sebut saja Ryzen 7 2700U, meksipun daya yang dikonsumsinya sedikit lebih rendah daripada Intel Core i7 8550U, akan tetapi performanya masih terpaut jauh di belakangnya.

10 Alasan untuk Memilih WordPress!

Kemunculan Ryzen sepertinya tidak serta merta berhasil mengubah pikiran para produsen laptop untuk langsung mengadopsinya. Hingar bingar marketing serta fakta ketangguhan Intel di lini laptop nampaknya masih menjadi sesuatu yang sulit untuk ditaklukkan oleh AMD. Mungkin hanya waktulah yang bisa menjawab apakah AMD bisa mengibarkan benderanya di segmen laptop atau tidak, kita tunggu saja.

Performa Multitasking dan Gaming

Image by Nate Barrett/Digital Trends

Apakah kamu seorang gamer, video editor, foto editor, atau hanya pengguna biasa yang sering multitasking? Jika kamu adalah seorang gamer yang serius menekuni dunia gaming, yang mana perbedaan 1 FPS saja sangat berarti buatmu, serta jika harga bukan masalah buatmu, ada baiknya kamu memilih Intel. Selain itu (gamer), ambil AMD! Kenapa demikian? Jawabannya bisa sederhana, atau bisa juga panjang. Jawaban sederhananya, untuk harga yang sama, AMD lebih bagus untuk menangani urusan multitasking, sementara Intel lebih bagus untuk menangani game. Sesimpel itu. Untuk jawaban panjangnya, silakan simak di bawah!

Pada saat artikel ini dibuat, berdasarkan hasil pengamatan dari berbagai review yang bertebaran baik di YouTube maupun situs-situs di internet (harap maklum kami belum memiliki hardware-nya untuk test secara langsung, jika ada yang tidak percaya dengan kesimpulan kami, yah kami tidak akan memaksa 😅), performa prosesor dari AMD sukses memecundangi Intel untuk urusan multitasking di kisaran harga yang sama. Akan tetapi, Intel masih menjadi raja untuk performa gaming dengan unggul beberapa FPS di atas AMD. Perlu diketahui, bahwa kondisi ini hanya berlaku jika tidak terjadi bottleneck pada kartu grafis (VGA card) yang dipakai (misalnya memakai GTX 1080TI SLI) serta pada seri atas AMD dan Intel (misalnya Ryzen 7 1800X dan Intel Core i7 7700K). Performa Intel dan AMD untuk gaming akan hampir sama jika VGA yang digunakan hanya di kisaran GTX 1070 ke bawah, atau game yang dijalankan tidak begitu banyak membutuhkan resource dari CPU, atau CPU yang digunakan adalah dari kelas menengah ke bawah, misalnya Ryzen 5 1600X dan Intel Core i5 7600K. Contoh game yang lebih berat ke GPU dan tidak membutuhkan banyak power dari CPU adalah The Witcher 3, dan kebalikannya adalah GTA V.

Cara Mudah Download Windows Official Image (ISO) Terbaru (October 2018)

Kenapa bisa demikian? Kenapa untuk urusan gaming Intel bisa mengalahkan AMD, padahal jumlah core dan jumlah thread-nya lebih banyak AMD? Game merupakan aplikasi yang pada umumnya hanya membutuhkan 1-4 core untuk berjalan. Bahkan beberapa tahun silam, kebanyakan game hanya menggunakan 1 core saja, meskipun ada 4-6 core pada CPU yang digunakan. Hal inilah yang masih merupakan keuntungan bagi Intel, karena kemampuan per core dari AMD masih belum bisa menyamai Intel. Lain halnya dengan video editing, 3D rendering atau multitasking biasa, jumlah core dalam suatu CPU lebih diutamakan daripada kemampuan per core-nya. Itulah kenapa AMD bisa mengungguli Intel di sektor ini. Tapi tenang, buat kamu yang ingin memiliki PC dengan kemampuan multitasking yang bagus serta baik di segala lini, AMD tetap masih bisa menjadi pilihan, karena seperti yang dikatakan sebelumnya, Intel hanya mampu mengungguli AMD secara telak jika didukung oleh GPU yang benar-benar anti lelet. Jika GPU yang dipakai masih entry level, perbedaan kedua CPU dalam gaming tidaklah terlalu besar atau bahkan tidak terasa. Sekedar tambahan informasi, kedua kubu sama-sama menerapkan sistem turbo boost, yakni di mana CPU memiliki base clock dan juga boost/top clock. Sederhananya, pada kondisi beban rendah, CPU akan berjalan pada clock speed rendah untuk menghemat daya, sementara jika bebannya naik maka CPU juga akan menaikkan clock speed-nya sesuai permintaan sampai mencapai clock speed tertingginya. Fitur ini dikenal dengan nama Intel Turbo Boost pada Intel dan AMD Turbo Core pada AMD.

Siapa Pemenangnya?

Sampailah kita pada pertanyaan pamungkas, siapa pemenang dari pertarungan ini? Kami akan memberikan jawaban yang diplomatis. Tidak ada (belum ada) pemenang yang mutlak dari pertarungan ini menurut kami. AMD memang sukses memberikan ombak yang cukup besar pada kubu Intel, bahkan mereka sempat menurunkan harga beberapa lini CPU-nya sesaat setelah seri Ryzen diluncurkan. AMD memang sukses memberikan angka yang cukup bagus di price to performance (kalau di Android mirip hape Xi*omi lah). Tapi percayalah, yang barusan kita bahas hanyalah pucuk dari sebuah gunung es. Intel XMP, Intel Xeon, Intel Core i9, AMD Threadripper, AMD EPYC, masih banyak hal-hal menarik lainnya yang belum terbahas. Yah, mungkin kita akan membahasnya di seri selanjutnya, atau bisa juga di kolom komentar.

“Lantas, kalau misalnya saya mau merakit komputer baru, prosesor mana yang harus saya pilih?”. Jawabannya gampang saja…